Found 7 bookmarks
Custom sorting
Legenda Festival Pertengahan Musim Gugur – Kisah Kelinci Giok (玉兔捣药)
Legenda Festival Pertengahan Musim Gugur – Kisah Kelinci Giok (玉兔捣药)
Legenda ini dianggap sebagai perpanjangan dari Legenda Festival Pertengahan Musim Gugur Chang E Terbang Ke Bulan . Alkisah, Kaisar Giok (Hanzi: 玉皇大帝, Pinyin: Yùhuángdàdì) menyamar menjadi orang tua yang miskin dan kelaparan dan memohon makanan dari monyet, rubah, dan kelinci. Monyet mengumpulkan buah dari pohon, dan rubah mengumpulkan ikan dari sungai. Sedangkan kelinci, hanya bisa mengumpulkan rumput. Mengetahui bahwa rumput tidak dapat dipersembahkan sebagai makanan bagi manusia, kelinci memutuskan untuk menawarkan tubuhnya sendiri, mengorbankan dirinya dalam api. Namun, entah bagaimana, kelinci tidak terbakar. Orang tua itu tiba-tiba mengungkapkan dirinya sebagai Kaisar Giok yang agung. Tersentuh secara mendalam oleh pengorbanan tanpa pamrih si kelinci, ia mengirimnya ke bulan untuk menjadi Kelinci Giok (Hanzi: 玉兔, Pinyin: Yùtù) yang abadi dan menemani Chang E di bulan. Chang E yang tinggal sendirian setelah tiba di bulan, menyukai Kelinci Giok pada pandangan pertama. Seiring berjalannya waktu, Chang E dan Kelinci Giok menjadi teman yang tak terpisahkan. Mendengar tentang kisah Chang E dan Hou Yi, Kelinci Giok merasa simpati kepada mereka. Kelinci Giok memutuskan untuk membuat obat surgawi khusus, yang dapat membantu Chang E kembali ke Bumi. Dia menumbuk obat herbal menjadi ramuan ajaib dengan lesung dan alunya. Sayangnya, Kelinci Giok masih belum bisa membuatnya meskipun, ia telah bekerja keras selama ribuan tahun. Jika kamu memandang bulan, kamu dapat melihat garis besar Kelinci Giok yang sedang memukul-mukul alu. Lebih dari sekadar imut, lembut, dan putih, Kelinci Giok adalah tanda tidak mementingkan diri sendiri, kesalehan, dan pengorbanan. Mungkin itu sebabnya Kelinci Giok ada di bulan, sehingga di mana pun kita berada di bumi, kita selalu memiliki etika kebenaran dan pengorbanan diri yang harus dijunjung. Artikel pertama muncul di: Tionghoa Indonesia - Budaya dan Tradisi Tionghoa Indonesia Pada: Legenda Festival Pertengahan Musim Gugur – Kisah Kelinci Giok (玉兔捣药)
·tionghoa.org·
Legenda Festival Pertengahan Musim Gugur – Kisah Kelinci Giok (玉兔捣药)
Batu Permata Giok Dalam Budaya Tiongkok
Batu Permata Giok Dalam Budaya Tiongkok
Batu permata giok adalah batuan metamorf yang secara alami berwarna hijau, merah, kuning, atau putih. Ketika dipoles dan dirawat, warna-warna cerah dari batu giok bisa menjadi luar biasa. Jenis batu giok yang paling populer dalam budaya Tiongkok adalah batu giok hijau, yang memiliki warna zamrud. Batu giok dalam bahasa Tionghoa disebut Yu (Hanzi: 玉, Pinyin: yù), merupakan batu yang penting bagi budaya Tiongkok karena keindahan, kegunaan, dan nilai sosial yang dimilikinya. Pentingnya Giok dalam Budaya Tiongkok Giok lebih dari sekadar batu di Tiongkok kuno. Itu adalah simbol kesempurnaan, keabadian, kemuliaan, dan keteguhan, dan orang Tiongkok menganggapnya sebagai inti dari langit dan bumi. Bagi orang Tiongkok, batu giok juga merupakan perwujudan dari kebajikan Konfusianisme seperti keberanian, kebijaksanaan, kesederhanaan, keadilan, dan kasih sayang. Pemolesan dan kecemerlangan batu giok dianggap oleh orang Tiongkok sebagai perwakilan kemurnian sementara kekompakan dan kekerasannya mencerminkan kecerdasan. Bukti penggunaan batu giok ditemukan di delta Sungai Yangtze selama periode budaya Liangzhu (3400 SM–2250 SM). Potongan besar giok ritual seperti Cakram Bi (Hanzi: 碧盘, Pinyin: Bì pán), Kapak Yue (Hanzi: 月斧, Pinyin: Yuè fǔ), dan Silinder Cong (Hanzi: 琮缸, Pinyin: Cóng gāng)sangat populer. Kesenian ini juga menampilkan berbagai hewan seperti penyu, burung, dan ikan. Pembuatan batu giok mulai meningkat selama dinasti Shang (1600 SM – 1100 SM) ketika orang Tiongkok memiliki teknologi untuk secara efisien membuat setiap benda yang bisa dibayangkan dari batu giok. The post Batu Permata Giok Dalam Budaya Tiongkok first appeared on Tionghoa Indonesia .
·tionghoa.org·
Batu Permata Giok Dalam Budaya Tiongkok